![]() |
Apakah
Anda sudah menjadi muslim yang baik? Jika ada yang menjawab belum, kenapa? atau
sebaliknya, sudah ada yang merasa menjadi muslim yang baik?
Sederhananya,
jawabannya, saya belum merasa sebagai seorang yang bermanfaat. Mungkin shalat
atau puasanya belum sempurna. Shalatnya belum khusyuk. Ibadah sunnahnya belum
sempurna. Jawaban itu benar saja. Maksud saya, mengukur tingkat kebaikan
seorang Muslim dengan ketakwaan, kepatuhannya dalam menjalankan perintah agama,
itu benar. Hanya itu belum cukup karena itu baru berorientasi kepada satu
hal, yaitu kesalehan individual.
Ketika
kita memikirkan hanya hubungan kita dengan Allah, kita melihat apakah keimanan
kita sudah tercermin dengan perilaku kita. Itu baru satu aspek saja. Sayangnya,
sebagian besar kita mempersepsikan dan menganggap dirinya hanya bertugas untuk
memenuhi tingkat kesalehan individual. Kalau bisa diadakan wawancara tertutup,
kenapa tidak ada yang menjawab, “karena saya belum menyantuni anak yatim,”,
“karena saya belum membebaskan seorang TKW”, “karena saya belum membantu
menyelamatkan PKL yang diusir oleh satpol PP”, dan seterusnya, karena kita
selama ini menganggap bahwa hal-hal seperti itu tidak berhubungan dengan
ketakwaan kita, keislaman kita.
Menginfakkan di sini bukan selalu berarti dalam bentuk harta, misalnya makanan atau uang, tapi juga dalam bentuk tenaga, pikiran, kepandaian, serta pengetahuan. Jika kita bicara sebagai seorang akademisi, insan akademik maupun kaum intelektual, tanda-tanda keilmuan, sahabat-sahabati di sini, saya kira, adalah bagian dari kaum intelektual.
Kita
tidak akan mencapai tingkat ketakwaan itu, al-birr, “kebaikan” itu kalau
kita tidak pernah meluangkan pengetahuan, kesadaran, energi dan pengetahuan
kita untuk orang lain. Saya akan menguraikan siapa orang lain itu dalam
pandangan Islam. Dalam ayat yang tadi saya baca, kebaikan itu berkorelasi
dengan sejauh mana pengorbanan yang kita berikan. Jadi “lan tanaaluu ‘l-birra
hatta tunfiquu min ma tuhibbun” itu. Persoalannya, kadang kita belum memahami
siapa yang sebenarnya paling layak kita beri infak dalam bentuk tenaga, harta,
pengetahuan, pemikiran dan apapun itu. Misalnya, siang ini saya berinfak pada
kawan-kawan di sini. Itu infak saya karena itu yang saya punya. Kalau saya
infak satu miliar rupiah disini mungkin nanti di luar ada yang cemburu. Disini
ajaran Islam memberikan suatu konsep yang sebenarnya cukup utuh, komprehensif,
sayangnya kita kurang mempelajarinya secara kritis.
Siapa
yang harus kita bantu dalam konteks kita ingin mencapai ketawaan itu? Supaya
tidak ada lagi dikotomi antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Tidak
sembarangan. Ada banyak kelompok yang layak kita bantu. Pertama, pada tataran
privat atau pribadi. Ada keluarga, orang tua, sanak famili atau al-aqarib,
dan al-jiwar alias tetangga. Ini yang saya ambil secara
literal, nash dari al-Qur’an. Kelompok yang paling dekat dengan kita.
Artinya, Islam itu mengajarkan kita untuk memastikan kelompok-kelompok ini
tidak ada dalam posisi yang—kalau menurut saya—termarjinalkan: keluarga,
saudara, famili, dan tetangga. “wa ‘l-jari ‘l junubi wa ‘s-shahibi bi ‘l-janbi”,
jadi orang yang rumahnya dekat dengan kita. Sebelah rumah kita.
Ada
juga kategori yang agak jauh dari kita. Kita meihatnya dari kacamata yang agak
jauh, tapi ada juga di sekitar kita. Misalnya “al-fuqara wal masakin”, kaum
fakir dan miskin. Ada juga kaum perempuan—ini untuk laki-laki—yang disebut
dengan “al-muhshanat” – perempuan yang mampu menjaga diri –, mereka juga
harus dilindungi. Tapi fuqara wal masakin saja, sudah banyak kelompok
yang masuk dalam kategori itu. Nanti kita akan membahas bagaimana kita akan
memberikan kriteria bagi kelompok ini.
Ada juga kelompok yang lebih jauh lagi, mungkin juga satu kelompok dengan itu, disebut dengan “al-ashnaf at-tsamaniyah” atau golongan penerima zakat, seperti ibnu sabil, sabilillah, dst. Dan ada satu kelompok yang mengangkat betul (kenyataan) bahwa Islam memberikan satu kriteria yang sangat jelas sebagai tolok ukur kesalehan sosial kita, yaitu al-Mustadh’afin.“Wamaa lakum laa tuqaatiluuna fii sabiilillahi wal mustadh’afiina minarrijaali wannisaa-i wal wildaanil-ladziina yaquuluuna rabbanaa akhrijnaa min hadzihil qaryatizh-zhaalimi ahluhaa”, “…mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah serta di jalan orang-orang al-mustadh’afin yang dilemahkan dari kalangan laki-laki, anak-anak dan perempuan.”
Kalangan ini secara konsep kita
mengerti definisinya, tapi bagaimana kita memahami praktiknya dalam sejarah,
ini yang saya kira sangat perlu kita pelajari. Karena kalau kita tidak memahami
sejarah, kita akan buta dan di situ sebenarnya kita hanya akan menjadi narsis.
Contohnya apa? “Saya sudah menyantuni kok anak yatim setiap bulan”. Apa sudah
cukup mengentaskan problem hanya sebatas itu? apa definisi Anda membantu? “saya
sudah ngasih kok sembako seribu orang tiap bulan, ada kaum fakir,
miskin dekat rumah saya, pengemis, saya kasih.” Ini buat saya definisi atau
praktik paling minimal dalam kesalehan sosial. Sebenarnya itu ruangnya masih
sangat egois, karena kita belum sampai mengentaskan kelompok-kelompok ini
terangkat dari jurang kemiskinan dan kefakiran atau keterpinggiran. Ini
istilahnya agak keren, agak asing, yaitu keberagamaan atau keberislaman yang
borjuistik. Artinya, keberislaman yang hanya memupuk kebanggaan pada diri kita
sendiri. Lebih-lebih sekarang ini ada media sosial, kita pakai Instagram,
jepret, direkam, sudah.
Keberislaman
borjuistik ini menjamur hari ini, bahkan diam-diam yang sebenarnya kita
praktikkan sehari-hari. Kita merasa enjoy ketika melihat ada fakir
miskin begitu saja. Kita tidak pernah tertarik bertanya mengapa dia menjadi
orang miskin? Kenapa dia menjadi yatim piatu? Keluarganya kemana? Jangan-jangan
ini keluarganya jadi TKI, ibunya pergi dan di sana diperkosa orang dan dibunuh,
atau seperti TKI kita yang kemarin dibunuh, membayar qishas, dipenggal
di depan umum. Kita tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu.
Bentuk keberagamaan atau keberislaman yang borjuistik ini yang saya kira hari ini dipamerkan terang-terangan oleh acara televisi melalui ritual yang kelihatannya sosial, tapi sebenarnya tidak mengentaskan apa-apa. Contohnya praktik-praktik sadaqah yang sebenarnya menjadi ajang narsistiknya kita. Kita kasih uang sadaqah, “saya sudah sadaqah kok”, tapi tidak berefek apa-apa, malah melanggengkan kesenjangan sosial.Jadi sebenarnya apa Islam progresif? Ada pertanyaan seperti itu.Sederhananya, Islam Progresif adalah Islam yang ingin mengatasi masalah-masalah sosial dari akarnya paling mendasar atau mengatasinya secara radikal. Radikal itu berarti radix, akar. Diambil dari akarnya. Mari kita melihat praktiknya.
Sekarang
umat Islam kelihatannya semakin makmur. Banyak kampus, masjid, lembaga
pengajian, forum-forum pengajian, banyak ustadz, tapi mengapa pada saat yang
sama kepedulian terhadap masalah-masalah yang menimpajustru semakin tipis.
Kalau ada gempa, banjir, longsor, kita peduli sama korban banjirnya, tapi kita
tidak pernah bertanya kenapa kok tiba-tiba ada banjir. Apakah jangan-jangan ada
penebangan hutan disitu? Apa jangan-jangan hutannya milik orang luar yang
kemudian mengorbankan penduduk setempat? Sebenarnya masyarakat perlu kritis,
bahwa (indikator) kita telah berislam itu tidak hanya modal perasaan. Karena
perasaan itu, “saya kasihan, ya sudah saya kasih”. Jadi kalau Islam hanya modal
perasaan saja itu namanya keislaman yang sentimentil. Sentimentil ini
sebenarnya yang akan terus memupuk keberislaman yang borjuistik: ketika sudah
merasa terpuaskan, maka selesai, padahal persoalannya tetap tidak pernah
selesai.
Misalnya,
kenapa Indonesia selalu menjadi negara pengekspor TKW terbanyak di Asia? Kita
bahkan mengekspor ke Malaysia. Oke, kurangnya lapangan pekerjaan. Apa definisi
lapangan pekerjaan? Ini karena kita kurang meneliti. Di desa-desa, yang
terjadi, misalnya di daerah Jawa Barat, kabupaten Indramayu, itu bukan karena
tidak ada pekerjaan. Di sana itu perempuan sebagai ibu rumah tangga banyak
pekerjaannya. Mungkin maksudnya pekerjaan yang punya bayaran. Sekarang
pertanyaannya, kenapa perempuan sampai butuh pekerjaan yang berbayar? Karena
dia tidak bisa lagi menggarap tanahnya. Di beberapa tempat, TKI itu banyak
dikirim ke luar karena orang-orang sudah tidak bisa lagi menggarap tanahnya.
Tanahnya sudah banyak dimiliki perusahaan, atau dimiliki orang-orang yang tidak
butuh mereka (tanah). Jadi sempitnya lapangan pekerjaan itu tidak terjadi
karena anggapan kita bahwa pemerintah kurang banyak memberikan lapangan
pekerjaan. Kalau kita membangun industri, pabrik, apa otomatis mereka akan
bekerja dengan kondisi yang lebih baik?
Di
Sidoardjo, banyak buruh-buruh perempuan yang pada akhirnya tetap miskin. Faktor
seperti ini penting kita pahami betul. Kita melihatnya juga sebagai bentuk
keberpihakan kita sebagai orang Islam. Artinya, jangan kita merasa tenang
selama saudara kita masih ada yang bekerja seperti itu.
Ini
baru satu persoalan. Belum lagi persoalan sosial yang lain. Indonesia punya
banyak persoalan tapi umat Islamnya kebanyakan cenderung belum mengerti akar
persoalannya, sehingga kerap cenderung menyalahkan ini, menyalahkan itu. Tidak
tahu sebenarnya akar persoalannya juga jangan-jangan akibat dari dirinya.
Banyaknya orang-orang yang sudah berhaji tapi pergi ke desa membeli tanah dari
orang desa yang tadinya bekerja di tanah itu. Ini namanya problem agraria. Jadi
persoalan TKI, buruh migran, itu terkait juga dengan problem pekerjaan.
Kembali
ke masalah keberislaman kita. Bagaimana kita mengatasi keberislaman yang
borjuistik itu? Sebenarnya Islam progresif itu terinspirasi dari apa yang
dilakukan oleh Abu Bakar RA dan Bilal RA. Islam itu datang sebenarnya
progresif, artinya mendobrak kemapanan. Membebaskan orang dari belenggu, itu
progresif. Ketika Abu Bakar melihat Bilal yang merintih kesakitan, yang
tergerak dalam dirinya adalah bahwa dia saudara seiman saya, dia harus dibebaskan,
tak peduli resiko apapun. Abu Bakar waktu itu dipukul, kalau sekarang orang
menyebutnya sampai di penjara, karena membela saudaranya.
Dalam
sejarah Islam, kalau kita baca sebenarnya banyak sekali kisah-kisah seperti
itu. Termasuk bagaimana akhlak Nabi sendiri terhadap orang-orang dan budak dari
kalangan non-muslim. Itu kalau dalam konteks perbudakan. Artinya, Nabi
membebaskan kaum budak juga. Bahkan kemudian ada satu budak yang karena baiknya
Nabi kepadanya, akhirnya beliau mau dinikahi oleh Nabi, yaitu seorang perempuan
bernama Maria al-Qibtiyah atau Sayyidah Siti Maria. Namanya seperti orang
Katolik, tapi memang dari negeri Katolik, seorang Kristen Koptik pada awalnya
yang kemudian masuk Islam.
Ini menarik. Pertama, kita lihat semangat progresif dari agama untuk mengakui adanya hak-hak orang di dalam kebebasan dan kesetaraan. Jadi, bahwa manusia itu punya hak setara di hadapan Allah untuk mendapatkan pendidikan, harta, perlindungan sosial, dst. Tidak boleh ada diskriminasi. Saya mengapresiasi kawan-kawan yang sekarang berjuang untuk kesetaraan kaum difabel. Mereka juga punya hak.Hak-hak ini terjadi dalam suatu lingkup yang saya sebut sebagai ‘revolusi hak’. Islam itu mengawali suatu revolusi hak yang berlangsung setidaknya sampai pada masa modern. Di situ kita bisa membaca kenapa ada tokoh Islam seperti Gus Dur atau Abdurrahman Wahid yang mengatakan bahwa berislam itu berarti menghargai hak. Islam itu tidak bertentangan dengan HAM.
Saya
ingin bertanya, kalau ada teman yang keberatan dengan HAM, bahkan anti HAM,
“HAM itu kan produk Barat”. Sebenarnya kita perlu bertanya, apakah benar HAM
itu produk Barat ataukah itu produk Islam yang kemudian diambil oleh Barat?
Buat saya, itu produk Islam, tapi kemudian Barat yang, katakanlah,
melegalisirnya. Kemudian dari Islam diambil alih. Itu baru satu aspek. Belum
lagi pada tataran hak yang lebih fundamental, misalnya hak untuk punya
kehidupan bermasyarakat yang adil dan sederajat. Di sini hak juga menyangkut
hak-hak kolektif, seperti yang di negara-negara sekuler disebut dengan hak-hak
ekosob – ekonomi, sosial dan budaya. Misalnya hak atas tanah, hak atas
pekerjaan layak, hak atas perlindungan hukum dari kriminalisasi, pemenjaraan
dan persekusi.
Tapi
itu sekali lagi masih banyak yang kesalehan individual, padahal itu juga tidak
kalah pentingnya secara kolektif. Ini hanya pemantik awal. Saya punya banyak
catatan untuk didiskusikan, mengapa hari ini kita sangat butuh suatu
keberislaman yang progresif? Hipotesa saya, kalau kita menganut keberislaman
yang borjuistik tadi, khususnya yang dianut teman-teman NU misalnya, moderat,
oke, tapi Anda tidak akan berhasil menemukan akar persoalan dari semua ini dan
bagaimana Islam menjawabnya. Saya meyakini Islam itu sebagai solusi. Mungkin
ini agak aneh karena sebagian orang mengatakan Islam itu tidak bisa menjawab
semuanya, tapi bagi saya Islam itu sebenarnya mampu menjawab semuanya asal
dibaca dan diamalkan secara tepat. Sayangnya, sering kali kita membaca Islam
itu sangat terdistorsi karena pengaruh zaman yang membuat kita tak lagi kritis
dan bingung dalam membaca fenomena yang terjadi.
Seperti saudara-saudara kita kemarin yang ikut aksi 212. Ada satu media yang mewawancarai dan kebingungan juga karena apa yang dikatakan di atas panggung itu berbeda dengan yang di bawah panggung. Yang diatas panggung bicara kalau itu untuk bela elite, tapi yang di bawah itu bicara untuk ukhuwwah. Jadi beda-beda. Ada bahkan yang bilang “saya ingin menolak kapitalisme karena kapitalisme itu sistem yang mencekik Indonesia”, tapi yang satunya bilang beda, “ini mendukung Prabowo”. Prabowo kan kapitalis, misalnya begitu. Jadi berbeda-beda persepsi.Mungkin kebingungan semacam ini karena kita belum berhasil menemukan semangat Islam yang sebenarnya diperlukan oleh kita sendiri.
Kesimpulan
saya, tidak cukup kita hanya dengan kesalehan individual. Kita harus memiliki
kesalehan sosial. Namun, tidak cukup kesalehan sosial selama dia masih
borjuistik. Kita harus melangkah lebih jauh untuk mengetahui akar persoalannya
dan sejauh Islam itu mampu mengatasi akar persoalan suatu masyarakat maka
potensinya untuk menjadi progresif itu akan lebih besar.
Islam Progresif dan Revolusi Hak
Reviewed by HB Media
on
March 15, 2020
Rating:
Reviewed by HB Media
on
March 15, 2020
Rating:

No comments: