![]() |
| Sumber Gambar : https://www.merdeka.com Penulis : Muhammad Rifki Kurniawan |
Beberapa waktu di abad 20
ini, dinamika ke-negaraan mulai naik-turun. Dari pemilihan presiden hingga
kebijakan presiden yang memukul rakyat guna memperlancar investasi, katanya
(Omnibus Law). Begitu muncul kebijakan yang tidak pro atas kerakyatan, maka
sebagai bentuk kekecewaan atas kebijakan, banyak sekali demonstrasi-demonstrasi
mahasiswa hinga kaum buruh terjardi. Melihat aksi masa yang berlangsung
dibeberapa kota dalam waktu belakang ini. Dari sektor gerakan penolakan ini
yang memuncak dari beberapa kota, tentu saja membuat masyarakat semakin
menananyakan kenapa ini terjadi. Menyikapi kejadian tersebut, maka yang perlu
di tanyakan ; kenapa gerakan penolakan berbeda naskah dan nama gerakan ?. Tentu
saja ini adalah hal ganjil dari sebuah dinamika demokrasi.
Jika gerakan bersatu dalam frame
yang sama, naskah yang sama, tentu saja akan semakin menciptakan gerakain yang
berskala ‘kualitatif’(1). Sebuah dinamika seperti ini harusnya jangan ter-ulang
kembali, seperti R-KUHP, kemarin banyak sektoralitas gerakan dan pencarian
posisi politis, tentu harus di waspadai dengan teliti. Nilai emosional dari
manusia yang terlukai hatinya, tidak mudah untuk berdamai begitu saja, apalagi
kedua kali ini kan. Dominasi public-masa, yang memiki sebuah rasa-marah kepada Negara
tentunya harus segera membuat area-publik forum, sebagaimana banyak orang belum
mengetahui cara demontrasi dan ber-orasi atas kekecewaan mereka. Disitulah peng-organisasian
masa dibentuk serta peng-organisiran terwujud sebagaimana kesadaran material
(2).
Permukaan dinamika, tidak
mudah untuk buyar tentunya. Aksi memang selesai dalam skala waktu-ruang
lapangan, akan tetapi aksi dilakukan dengan metode kultural dengan pembacaan serta
analisis yang sudah dimiliki masyarakat untuk menyikapi kebijakan pemerintahan.
Kemerdekaan ialah hak semua bangsa, ujar bung karno. Begitu dengan masyarakat
yang meng-inginkan keadilan, dari ke-sepihakan pemerintahan terhadap para
oligarki. Melihat secara informasi teks dan media online, semua pasti paham dan
tahu terhadap keadaan dinamikan kerakyatan (pasca-aksi masa-meletus).
Tetapi ke-inginan masyarakat
bertolak belakang dengan oprasional partai politik di Indonesia. Partai politik
yang belum diketahui dapurnya seperti apa, membuat aksi masa dalam penolakan
kebijakan semakin abu-abu. Harus dipahami sebagai wujud ketidak-terimaan
terhadap kebijakan. Bahwa partai politik sekarang ini harus di bubarkan, dan
disediakan partai alternative yang memiliki naluri kepada rakyat secara waktu
ber-skala panjang, dan tidak sekedar momentual pemilihan umum/pemilu, (1). Segi
politik di Indonesia sudah cukup ngawur dan merugikan, jika dilihat dari
cakupan masalah korupsi dan penyalahgunaan jabatan. Sehingga meng-haruskan
rakyat untuk menjadi indikator keterbukaan informasi, jika tidak maka Negara ini
tidak sah untuk rakyat, dan menjadikan Negara ini adalah hal yang ghaib seperti
setan yang memusuhi manusianya (2).
Sudah saat nya bersatu untuk revolusi
Reviewed by HB Media
on
March 15, 2020
Rating:
Reviewed by HB Media
on
March 15, 2020
Rating:

No comments: