Comments system

banner image

Labels Max-Results No.

banner image

Kelas dalam Marxisme



Apa yang khas dari pengertian Marx tentang kelas ? Sebelumnya perlu dikemukakan bahwa pusat perhatian dari studi Marx adalah menjelaskan bagaimana hubungan sosial produksi kapitalisme bekerja serta apa yang membedakannya dengan hubungan sosial produksi non-kapitalis. Dalam kaitan dengan persoalan kelas, maka perlu buat kita melihat bagaimana kalangan non-Marxis mendefinisikan kapitalisme. Di sini, ada dua hal krusial yang patut diperhatikan: pertama, para intelektual non-Marxis, menganggap kapitalisme memiliki akar yang menjulur jauh hingga ke masa-masa peradaban kuno atau bahkan telah eksis bersamaan dengan eksisnya dunia. Di sini, kapitalisme dipandang hanya sebagai bentuk termaju dan lebih kompleks dari sistem sosial yang sebenarnya telah eksis. Hanya saja, karena faktor-faktor tertentu (politik, ekonomi dan sosial-budaya), kapitalisme tidak berkembang secara sempurna seperti saat ini. Dengan demikian, dalam pandangan kalangan non-Marxis, kebangkitan kapitalisme secara sederhana  dilihat melalui pertumbuhan pasar, pembukaan kembali rute-rute perdagangan baru, peningkatan perdagangan, pembebasan borjuasi dari belenggu feodalisme, dan seterusnya.[17] Singkatnya bagi kalangan non-Marxist, kapitalisme merupakan sebuah sistem yang kekal, sehingga konsekuensinya pandangan mereka tentang keberadaan kelas-kelas dalam masyarakat merupakan sesuatu yang kekal pula.


Sementara, menurut Marx keberadaan corak produksi sosial bukanlah sesuatu yang telah ada dengan sendirinya, sesuatu yang tiba-tiba diturunkan dari langit. Dalam Grundrisse, ia dengan detil menjelaskan bagaimana kapitalisme (disebutnya juga sebagai masyarakat borjuis) adalah suatu corak produksi baru yang sama sekali berbeda dengan corak produksi sebelumnya. Benar bahwa beberapa aspek dari masyarakat borjuis telah ada pada masa sebelumnya, misalnya, pertukaran, yang jejaknya memang bisa ditemukan pada masyarakat komunal, tetapi adalah salah besar jika menyimpulkan bahwa pertukaran merupakan ciri dominan dari masyarakat tersebut. Contoh lain soal keberadaan uang.  Jika pada masyarakat borjuis peranan uang sangat dominan, sebagai darah dari hubungan sosial, maka pada masa sebelumnya peranannya tidaklah dominan, kecuali  terbatas pada bagian tertentu dari masyarakat tersebut, misalnya pada komunitas pedagang. Bahkan dalam masyarakat kuno yang lebih maju, misalnya, pada jaman kekaisaran Romawi, perkembangan uang dan peranannya baru muncul pada masa-masa akhir kejayaannya, terutama pada seksi militer.[18]
Dengan pemahaman seperti ini, maka bagi Marx keberadaan kelas-kelas dan perjuangan kelas itu bukanlah sesuatu yang ahistoris, sesuatu yang telah ada dengan sendirinya dan karena itu abadi keberadaannya. Kelas muncul dalam corak produksi tertentu, hasil dari perjuangan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Konsekuensinya, dalam corak produksi tertentu keberadaan kelas-kelas ini bisa dihapuskan.
Perbedaan kedua, kalangan non-Marxis menganggap ciri utama kapitalisme adalah pada hubungan pertukaran (exchange relation) dimana pasar secara sederhana didefinisikan sebagai medium pertukaran dan distribusi. Karena hubungan pertukaran ini sudah ada sejak jaman manusia hadir di dunia ini, maka kapitalisme dengan sendirinya telah hadir bersamanya. Lebih spesifik lagi, sosiolog Max Weber yang mengatakan sejak pertukaran di pasar (market exchange) ditujukan untuk memperoleh keuntungan maka saat itulah kapitalisme telah ada.[19] Dan karena pertukaran akan terus ada sejauh manusia berinteraksi dengan sesamanya, maka kapitalisme pun demikian. Kita lihat, inilah argumen yang menopang tesis bahwa kapitalisme itu bersifat abadi. Konsekuensinya, selain keberadaan kelas-kelas itu alamiah, maka perjuangan kelas pun menjadi musykil dan utopis. Yang realistis itu adalah mencari metode bagaimana supaya terjadi kerjasama kelas seperti yang muncul pada pemikiran Ricardo dan kaum sosialis utopis agar terjadi harmoni kelas. Menurut Honore de Balzac, novelis Prancis yang merupakan idola Marx, harmoni kelas itu hanya mungkin terjadi jika dipimpin oleh kalangan “modern aristocracy” yang mengerti tentang seni, ilmu pengetahuan dan kekayaan dibanding kelas-kelas lain dalam masyarakat kapitalis.[20]
Sementara Marx menganggap ciri utama kapitalisme terletak pada hubungan produksi (production relation), yang melibatkan tidak hanya hubungan kepemilikan dan distribusi yang menentukan corak produksi, siapa yang memiliki apa dan mengapa, tapi juga bagaimana kepemilikan itu diorganisasikan dan kemudian muncul dalam bentuk kontrol atas kerja dan hasil kerja (produk), serta aspek-aspek organisasi sosial lainnya. Dalam pengertian ini, menurut Marx, ciri utama kapitalisme ditandai oleh hubungan antara mereka yang memiliki alat-alat produksi (kelas kapitalis) dan mereka yang hanya bisa hidup dengan menjual tenaga kerjanya kepada pemilik alat-alat produksi tersebut, yakni kelas pekerja di pasar. Di sini, pasar tidak hanya berperan sebagai medium pertukaran dan distribusi (seperti dalam corak produksi pra-kapitalis), tapi  sebgai medium utama yang mengatur dan menentukan reproduksi sosial.[21] Dalam hubungan produksi ini, maka hubungan kelas-kelas itu bagi Marx niscaya berlangsung secara eksploitatif, konfliktual dan tak terdamaikan, karena kedua kelas ini memiliki kepentingan yang bertolak-belakang satu dengan lainnya. Hubungan eksploitatif ini secara khusus dijelaskan Marx melalui konsep perampokan “Nilai Lebih.”
Dalam karya polemisnya The Poverty of Philosophy yang ditujukan kepada Pierre Joseph Proudhon, Marx menulis:
“Pada prinsipnya, tidak ada pertukaran produk, melainkan pertukaran buruh yang bekerjasama dalam produksi. Corak pertukaran produk tergantung pada corak pertukaran kekuatan produktif. Secara umum, bentuk pertukaran produk berkaitan dengan bentuk produksi. Ubah yang terakhir maka konsekuensinya, bentuk pertukaran pun akan berubah. Jadi, dalam sejarah masyarakat, kita lihat, corak pertukaran produksi diatur oleh corak yang memproduksinya. Pertukaran individual berkaitan juga dengan corak produksi tertentu yang pada dirinya sendiri, berhubungan dengan antagonisme kelas. Bisa dikatakan, tak ada pertukaran individual tanpa antagonisme kelas.”[22]
Dengan menempatkan ciri utama kapitalisme pada hubungan produksi, maka Marx kembali menegaskan bahwa kapitalisme adalah sebuah produk sejarah masyarakat tertentu, yang berbeda dengan masyarakat non-kapitalis. Dalam masyarakat komunal purba, misalnya, ia menyatakan bahwa keberadaan kelas-kelas itu tidak ada karena tidak terjadi kelebihan produksi dan belum adanya lembaga kepemilikan pribadi. Karena kelas-kelas belum muncul, maka hubungan produksi yang terjadi berlangsung secara egaliter dan kooperatif. Kelebihan produksi dan lembaga kepemilikan pribadi baru muncul pada corak produksi perbudakan, yang ditandai oleh hubungan yang ekspoitatif antara dua kelas yang dominan saat itu: budak dan tuan budak. Pada kapitalisme hubungan kelas yang eksploitatif dan konfliktual ini menjadi semakin rumit dan semakin dipertegas.

Kelas dalam Marxisme Kelas dalam Marxisme Reviewed by HB Media on March 15, 2020 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.