Puisi Friedrich Nietzsche

Sumber Foto : galeribukujakarta.com

Eco homo (lihat, manusia)


Ya! Aku tahu asalku dimana
Tak terpuaskan, nyala laiknya
Aku membubus menelan diri
Terang jadinya segala kupegang
Sisa kutinggal; semua arang
Memang nyala hakikat diri.

Mentari Silam


Hari hidupku
Mentari silam.
Sepuh emas meliputi laut yang rata
Bukit batu panas bernafas; istanakah di atasnya:
Bahagia, dalam nikmat tidur petangnya?
Dalam cahaya hijau
Masih main-main
Bahagia mendaki jurang nan jingga.

Hari hidu
Senja telah dibatas
Telah hampir padam nyala matamu
Telah mulai turun rinai tangis embunmu
Telah merata di laut putih;
Merahmu mesra,
Nikmat bimbangmu yang penghabisan….

Dilamun Sepi


Gagak-gagak riuh
Berisik terbang menuju kota
Sebentar… salju turun—
Bahagia orang, yang kini masih—ada kampungnya!

Kini kau kelu
Menoleh, ah, sekian lamanya!
Yang lari kedunia sebelum waktunya!


Duna—gerbang
Keribuan gurun dingin dan bisu
Jang kehilangan,
Bagai kau kehilangan, tak kunjung lesu.

Kini kau lagut
Ternasib kelana dimusim dingin
Ya—asap, tak henti
Mencaari langit-langit lebih dingin

Terbanglah burung
Kumandangkan lagu ala burung gurunmu!
Sembunyikan, anakku
Dalam es dan cerita, hatimu yang luka.

Gagak-gagak riuh.
Berisik terbang menuju kota:
Sebentar… salju turun—
Celaka orang, yang tiada kampugnya.

*) Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900), selain penyar adalah seorang filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kuno, filsuf, kritikus budaya, dan juga komposer. 
Puisi Friedrich Nietzsche Puisi Friedrich Nietzsche Reviewed by HB Media on March 14, 2020 Rating: 5

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.